Asal Usul Kura Kura dan Kepunahannnya

Asal Usul Kura Kura

Kura-kura sangat akrab dalam kehidupan manusia. Sebagian masyarakat memiliki mitos bahwa kura-kura adalah hewan suci. Binatang ini termasuk golongan sejenis reptil bersisik dan berkaki empat dengan memiliki bony shell (batok rumah) yang kaku dan keras. Batok bagian atas hewan yang termasuk ordo testudinata ini disebut carapace, dan bagian bawahnya disebut plastron.

Pengelompokan Kura kura

Bangsa hewan ini terdiri atas tiga kelompok, yaitu sea turtles atau penyu,freshwater turtles (bulus atau labi-labi), dan tortois. Selain itu ada yang membaginya menjadi dua istilah, land tortoises untuk yang hidup di darat dan terrapins atau freshwater tortoises untuk yang hidup di air tawar.

Hewan bersisik ini hidup di daerah padang rumput, sungai, rawa, laut, dan danau. Ada beberapa jenis yang bisa hidup di gurun atau tempat yang memiliki sedikit air. Makanan mereka ada yang termasuk jenis karnivora,herbivora, dan omnivora. Walau tanpa gigi, tulang keras di moncongnya dapat mematahkan apa saja.

Pemilik bony shell ini bertelur untuk mempertahankan jenisnya. Telur disimpan di pinggir sungai atau tepi pantai, lalu ditimbun dan menetas setelah 50 – 70 hari berada di pasir. Jika suhu pasir atau tanah di sekitar timbunan telur di atas rata-rata, maka telur akan menetas dengan jumlah betina lebih banyak. Jika suhu di bawah normal, telur cenderung menetaskan hewan jantan.

Kura-kura dan Manusia

Secara tradisional, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa kura-kura adalah hewan yang sangat akrab dengan manusia. Dalam mitologi Hindu, disebutkan bahwa bumi ini ditopang oleh empat kura-kura. Hal yang sama pun terdapat dalam kisah kuno Adiparwa. Kura-kura raksasa sangat berperan untuk menyangga gunung yang diputar dan dipakai mengaduk lautan untuk mencari tirta amerta (air kehidupan).

Hewan ini memang disucikan sehingga sering dipelihara di sejumlah kolam kuil Hindu dan tempat-tempat suci yang lain. Oleh sebab itulah, lukisan kura-kura sering terlihat pada relief candi dan pemakaman. Di sisi lain, daging kura-kura sudah sejak lama dikenal sebagai santapan yang sangat lezat. Beribu-ribu ekor kura-kura hidupnya berakhir di dapur restoran setiap tahunnya. Tak berbeda jauh dengan telur-telurnya yang banyak juga dijadikan santapan manusia.

perburuan kura-kura

Selain itu, ada banyak juga jenis kura-kura yang ditangkap, lalu diperdagangkan sebagai hewan peliharaan (pet). Hewan ini banyak dipelihara karena keunikannya, keindahan warnanya, atau yang cukup ironis adalah karena kelangkaannya. Bahkan, ada yang harganya sangat mahal karena kelangkaan tersebut.

Eksplorasi dan perburuan kura-kura yang dilakukan secara terus-menerus tersebut berdampak pada menurunnya jumlah populasi hewan tersebut ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Hal ini semakin diperparah dengan habitat alaminya seperti sungai, hutan, dan rawa, yang juga ikut rusak karena aktivitas manusia. Akibatnya, perkembangan populasi reptil ini berjalan sangat lambat dan sebagian besar justru sifat-sifat dan kebiasannya belum diketahui. Oleh karena itulah, tindakan konservasi terhadap reptil ini sangat diperlukan.

Dari seluruh bangsa kura-kura, hanya baru penyu yang sudah dilindungi dengan sangat baik di Indonesia. Ya, hampir seluruh jenis penyu sudah dilindungi oleh undang-undang. Tak hanya itu, ada banyak pantai peneluran penyu yang sudah dimasukkan dalam daerah yang dilindungi seperti Pantai Jamursba Medi di Papua dan Pantai Sukamande di Jawa Timur. Walaupun demikian, perburuan penyu dan telurnya masih saja terjadi secara ilegal. Aksi ini hingga kini masih sulit dicegah dan dihentikan