Legenda Putri Pukes Aceh Tengah

Legenda Putri Pukes Aceh Tengah

Legenda Putri Pukes Aceh Tengah – Putri Pukes adalah seorang gadis cantik, putra seorang raja di desa Nosar. Putri itu sangat mencintai seorang pangeran dari kerajaan lain di Bener Meriah. Pasangan ini dengan keras kepala memperjuangkan cinta dan meminta restu orang tua mereka.

Pertamanya, orang tua Putri Pukes menolak lamaran pangeran, apalagi Putri Pukes adalah anak tunggal seorang raja yang susah didapat dan akan segera dibawa ke kerajaannya oleh seorang pangeran bernama Mude Suara. Karena rasa sayang dan cinta kepada putrinya, akhirnya orang tua Pukes menyetujui pernikahan putrinya dengan Pangeran Mude Suara.

Sesudah menikah, seorang wanita harus pergi ke suaminya, seperti biasa, menurut adat Gayo sistem Juelen, di mana wanita tinggal bersama suaminya selamanya. Demikian pula dengan Putri Pukes, dengan air mata berlinang, dia meminta izin orang tuanya untuk bergabung dengan kerajaan suaminya.

Apakah Kisah Legenda Putri Pukes Aceh Tengah nyata?

Dikatakan bahwa pada zaman kuno, ketika mempelai wanita tidak boleh berpegangan tangan, pangeran pergi lebih dulu, kemudian sang putri mengikuti. Kedua orang tua membiarkan putri tersayang mereka pergi dengan perasaan sedih. Ayah ibunya menasihati ibunya ketika dia meninggalkan kerajaan untuk tidak pernah berpikir untuk pergi ke kampung halamannya dan melihat ke belakang.

Akhirnya sang putri pergi dengan ditemani pengawalnya. Dalam bahasa Gayo momen ini disebut “munenes” yang berarti mengantar pengantin ke rumah suami barunya.
Ia pergi dengan membawa barang-barang rumah tangga yang disiapkan oleh keluarga Putri Pukes, seperti ceret, kendi, lesung, alu, piring, tatakan, periuk, dan lain-lain.

Acara Munenes untuk pengantin baru di Gayo biasanya berlangsung ceria dan emosional, namun sangat berbeda dengan suasana sedih sang putri. Dalam perjalanan, Pukes terus teringat akan lelaki tua yang sangat dirindukannya. Kemudian dia secara tidak sengaja menoleh ke belakang.
Tiba-tiba terjadi badai petir, guntur dan hujan sangat lebat. Rombongan Putri Pukes harus berteduh di sebuah gua. Sang putri, yang kedinginan, berdiri di sudut gua untuk menjaga suhu tubuhnya tetap hangat.

Tetapi perlahan sang putri merasakan tubuhnya semakin dingin dan keras. Dia sangat terkejut dan menangis sebagai bagian dari tubuhnya dan kemudian berubah menjadi batu sepenuhnya. Saat itu, penyesalan muncul di hatinya karena mengabaikan pesan orang tuanya. Seringkali para penjaga memanggil sang putri, tetapi tidak ada jawaban. Di pojok goa, ternyata Putri Pukes sudah membatu.