Sejarah Olahraga Lompat Tinggi

Sejarah Olahraga Lompat Tinggi

Sejarah Olahraga Lompat Tinggi – Olah raga lompat tinggi merupakan salah satu cabang yang banyak dikenal oleh masyarakat. Meski pun bukan termasuk cabang olah raga favorit, namun olah raga ini termasuk salah satu cabang olah raga yang usinya cukup tua.

Cabang olahraga lompat tinggi ini sudah dikenal sejak abad 19. Olahraga lompat tinggi ini pertama kali diperkenalkan pada acara olimpiade di masa Yunani. Dimana pada saat itu, ketika Olimpiade diselenggarakan di Skotlandia tercatat rekor dunia lompat tinggi adalah 1,68 meter. Di masa awal cabang olah raga lompat tinggi ini diperkenalkan, para atlet banyak yang menggunakan gaya gunitng. Itulah mengapa gaya gunting ini dikenal juga sebagai gaya klasik. Sebab, gaya tersebut merupakan salah satu gaya yang digunakan sejak olah raga ini dikenalkan pertama kali di dunia.

Pada saat ini, gaya gunting ini sudah tidak banyak lagi digunakan dalam kegiatan olah raga profesional. Meski demikian, masih ada beberapa atlet yang menggunakan gaya gunting tersebut saat melakukan lompatan. Biasanya, gaya ini dilakukan oleh para pelompat tinggi amatir atau hanya melakukannya sesekali.

Cara ini tidak lagi digunakan karena dianggap tidak efektif dalam mencapai lompatan tertinggi. Lompatan dengan menggunakan gaya ini dilakukan menggunakan pijakan kaki yang jauh dari rintangan. Saat melompat, kaki disilangkan di atas palang dan badan melintasi palang dengan gaya menggunting. Karena dianggap kurang efisien dan memiliki resiko yang tinggi saat mendarat, gaya ini tidak direkomendasikan untuk dilakukan saat melakukan lompat tinggi.

Memasuki abad ke 20 teknik gaya gunting ini sudah diperbaharui oleh seorang warga Irish, Amerika yaitu M.F Sweeney’s. Gaya ini disebut Eastern cut off, yang cara melompatnya memnyerupai gaya gunting. Hanya saja dengan menggunakan gaya ini, bagian belakang tubuh posisinya mendatar pada waktu melompati palang. Dengan menggunakan gayanya tersebut, Sweeney berhasil menciptakan rekor lompatan setinggi 1,97 meter yang dibuatnya pada tahun 1895.

Penyebutan gaya tersebut dengan nama gaya Timur bukan lantaran karena gaya ini berhubungan dengan masyarakat Asia atau kawasan timur lainnya. Hal ini terjadi karena gaya tersebut pada awalnya digunakan oleh Sweeney yang selanjutnya banyak digunkaan oleh masyarakat pantai Timur Amerika. Inilah yang kemudian menyebabkan gaya lompatan yang dilakukan oleh Sweeney disebut dengan nama gaya Timur hingga saat sekarang ini.

Selain gaya yang diperkenalkan oleh Sweeney, masih ada warga asal Amerika yang berjasa menciptakan gaya baru dalam lompat tinggi. Orang tersebut adalah M. F orine yang berhasil memperbaiki serta menciptakan teknik yang lebih efisien yang dikenal dengan gaya Guling Barat.

Dengan gaya yang diciptakannya itu, M.F Horine berhasil meciptakan rekor baru lompatan setinggi 6 kaki 7 inch pada tahun 1912. Dengan keberhasilan gayanya itu, kemudian banyak pelompat yang meniru dan menggunakan gaya yang diciptakannya. Hal ini terutama banyak dilakukan oleh para pelompat dari negara kawasan Amerika Barat.

Inilah mengapa, gaya baru tersebut dikenal dengan nama Guling Barat. Gaya ini dianggap lebih baik serta efisien daripada gaya timur atau gaya gunting. Banyak pelompat dari tanah air yang kemudian dikenalkan gaya ini untuk melakukan lompatan.

Masih ada satu gaya lagi yang dianggap sebagai gaya paling efisien saat melakukan lompatan. Gaya ini disebut gaya kelana yang banyak digunakan oleh pelompat dari Amerika serta Rusia. Gaya ini cukup populer karena dinilai dari sisi mekanik gaya ini cukup menguntungkan. Itulah mengapa banyak pelompat yang menggunakan gaya tersebut guna mendapatkan ketinggian maksimal dalam lompatan. Salah satu bukti bahwa gaya ini banyak digunakan oleh para pelompat adalah dalam pelaksanaan Olimpiade di Roma pada tahun 1960.  Dalam ajang tersebut, dari 17 pelompat yang berhasil masuk babak final, 14 orang diantaranya menggunakan gaya kelana. Inilah bukti bahwa gaya ini merupakan gaya yang sangat populer di kalangan atlet lompat tinggi.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh para peneliti olah raga, terbukti bahwa gaya guling barat dan gaya kelana merupakan gaya yang paling mendekati konsep ilmiah dan paling efektif. Sehingga gaya tersebut mampu menciptkan gaya lompatan dan dorongan yang optimal pada tubuh seorang atlet.

Pentingnya Berlatih

Dalam olahraga lompat tinggi, salah satu faktor penting yang akan menunjang prestasi adalah faktor latihan. Sebab, latihan merupakan sebuah proses penggabungan antara aspek seni dan ilmu pengetahuan. Tidak ada atlet yang berhasil dalam sebuah cabang tanpa melakukan latihan secara rutin.

Sehingga, prestasi yang berhasil diraih oleh seorang atlet bukan sekedar ditentukan oleh faktor bakat alam semata. Namun lebih jauh, antara bakat dan latihan harus berjalan secara beriringan untuk menciptakan sebuah prestasi yang optimal.

Bakat yang tidak dilatih, tidak akan mampu menciptakan prestasi. Dan sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki sebuah bakat khusus, tetap memiliki kesempatan untuk meraih prestasi dengan optimal.  

Dalam olahraga lompat tinggi, latihan yang dilakukan harus berpusat pada kekuatan yang akan digunakan. Selain itu, perlu adanya pembimbing yang mampu memberikan teknik serta pendampingan agar bisa menumbuhkan semangat pada seorang atlet guna meraih prestasi optimal. Sehingga mereka bisa menjadi seorang pemenang dalam sebuah kejuaraan dan memperoleh penghargaan yang besar.

Olahraga lompat tinggi merupakan sebuah proses yang harus dilakukan secar bertahap. Mulai dari proses persiapan lari, persiapan menuju titik lompat hingga pada posisi lompatan dan berakhir pada cara mendarat. Hal ini merupakan sebuah proses yang saling berkesinambungan antara satu sama lainnya. Keseluruhan konsep ini disebut dengan konsep mekanik yang jika dipahami bisa menciptakan hasil yang optimal.